Senin, 06 Februari 2012

short story_kisah hidupku hingga menemukan kebahagiaan


KISAH PEDIHKU HINGGA MENEMUKAN KEBAHAGIAAN
Inilah hidupku mungkin cerita ini dimulai ketika ayah dan ibuku bercerai , aku hidup dengan ibu dirumah yang kecil dan sempit kehidupan ekonomiku dirumah pas-pasan karena ibuku seorang buruh cuci dan setrika. Aku anak tunggal ayah dan ibuku membesarkan aku hanya umur 15 tahun ini. Kini aku dan ibuku berjuang meratapi nasib. Ayahku adalah seorang pemabuk dan suka main judi pulangnya larut malam . dulunya ayahku orang yang taat pada agama yaitu muslim namun sekarang muslim yang ada dihatinya telah hancur berkeping-keping tak ada lagi harapan tobat untuknya. Tak kuasa ibuku menahan rasa sakit itu dan ibu menggugat cerai ayahku, ibuk sudah tak kuat lagi dengan kelakuan ayahku sekarang ini dengan perlakuan kasar tangan ayahku masalah itu sangat panjang dan aku tidak mau mengembalikan masalah-masalah ayah dan ibuku.
Setiap kali waktu malam aku tidak ada yang menemani selain genangan air mataku yang selalu menetes dipipi. Entah kenapa aku sangat prihatin perjuangan ibuku, aku tak tau harus bagaimana impianku selanjutnya aku mau masuk di SMA sedangkan zaman sekarang biaya sekolah sangat mahal akankah ibuku bisa membiayai kehidupan sekolahku sampai kejenjang yang lebih tinggi ataukah aku berhenti dari sekolah dan aku bekerja . aku tak tau harus bagimana aku takut bicara pada masalah sekolahku ini padanya.
Ya tuhan berikan kami rezeki yang mampu untuk aku sekolah dan bisa menghidupkan ekonomi keluarga aku dan ibuku. Aku ingin cita-citaku menjadi guru yang selalu mengerjakan hal-hal terbaik dari semua anak-anak yang aku ajarkan dan aku ingin ilmuku bisa berbagi dengan orang-orang yang aku ajarkan, tuhan apakah impian cita-citaku akan terkubur dalam-dalam.
Setelah aku mengalami proses tryout maupun ujian akhir nasional akhirnya saya lulus dengan peringkat 2, walupun aku ingin berjuara 1 agar hati ibuku senang dengan peringkat 1 itu peringkat 2 itu sudah cukup buat aku tapi aku trima dengan keikhlasan hati. Disekolah tidak memberikan beasiswa untuk aku masuk jenjang yang lebih tinggi karena disekolahku sangat sederhana sekali pas aku pindah sekolah tsb, hanya saja diberikan uang 100 ribu dan aku trima. Aku ingin dapat beasiswa karena aku ingin sekali ,jadi ibuku tidak memikirkan uang terlalu banyak. Namun aku tidak berharap seperti, namun aku sedih memikir beribu-ribu kali apakah cita-citaku terpendam aku tak ingin. setelah pulang dari wisuda Aku jujur kepada ibuku :
Aku : ibu, kehidupanku selanjutnya mau kemana ?
Ibu : bayu, ibu harus bagaimana ibu masih menabung uang nak, namun akankah uang itu cukup untuk biaya sekolahmu. ibu, bingung ibu tidak mau cita-citamu terpendam ibu tak ingin nak. Sedangkan ibu sudah tua
Aku : bu, bayu siap kok! Bekerja untuk menghasilkan uang sendiri, dan bisa membantu meringankan beban ibu.
Ibu : bayu emang kamu mau bekerja apa? Sudahlah biar ibu saja yang bekerja kamu tidak usah bekerja urusin saja sekolahmu ibu masih kuat kok membiyai kamu hingga cita-citamu tercapai.
Tanpa berkata aku merungguk kepalaku beban nasib keluargaku dirumah sangatlah berat saat ayah meninggalkan ibu dan ayahku tak mempunyai hati dan naluri . besoknya aku masih berfikir sekolah dimana yang biaya terjangkau, namun fasilitas-fasilitasnya yang nyaman , setelah berulang kali aku berfikir akhirnya aku menemukan sekolah yang cocok denganku .
Setelah ibu mempunyai hasil uang yang cukup buat kebutuhanku sekolahku aku sama ibu disekolahan akhirnya cita-citaku tidak kandas . namun khayalanku apakah ibu masih sanggup membiyai aku sampai ke jenjang yang lebih tinggi aku harus bisa membagai waktu antara jam sekolah dan jam pekerjaanku namun aku harus kerja apa?. Besoknya aku ikut dengan orang yang bekerja buruh bangunan sampai jam 7 malam disitu aku diberi makan hanya sebungkus nasi dan ayam.
Pekerjaan itu masih kurahasiakan saat ibu bertanya kenapa selalu pulang sekolah jam 7 dan aku bilang ada tambahan pelajaran dan juga tambahan extrakulikuler. Pekerjaanku itu cukup untuk meringankan beban ibuku dan sebagian aku tabung.betapa capeknya hidup ini namun aku tetap berikhtiar pada tuhan pasti impian cita-citaku diwujudkan. 2 tahun kemudian saat aku kelas 2 yang akan memasuki kelas 3. Ibu dulunya aku cintai namun dia sudah tidak ada lagi dibumi ini atau meninggal dunia karena sakit hidupku sangatlah berat aku hidup sebatang kara.
Tak mempunyai keluarga, ataupun kakak karena aku anak tunggal yang dilahirkan oleh ayah dan ibu, namun semua sudah berakhir kini yang hidup hanya aku saja aku berjuang demi hidupku sendri . keluargaku semua sudah pergi semua entah dimana aku tak tau harus apa yang akan aku lakukan setelah memasuki kelas 3 aku masih bekerja di buruh bangunan itu sudah jadi mall. Menyesal dan sedih itulah hidupku kini setelah ditinggal ayah dan ibu aku masih bisa usaha lain seperti jualan Koran walapun mengganggu sekolahku tapi aku masih bisa melakukan usaha ini kusuksesan mulai dari 0 ibu akan senantiasa membantuku
Setelah aku selesai dari bangunanku gaji terakhirku lumayan banyak itu semua aku langsung bayar kebutuhan sekolahku dan aku masih bisa berjualan Koran tentunya untuk aku makan setiap hari. Setelah mengalami beberapa proses akhirnya saya lulus dari kelas 3 dari uangku sendiri aku harus bisa melanjutkan hidupku ke jenjang yang lebih tinggi lagi tak tau kenapa aku harus bagaimana hidupku sangat pedih tak ada seseorang yang aku kenali aku masih mempunyai uang cukup untuk aku sekolah diuniversitas tak ada kata menyerah dihidupku aku juga bekerja sebagai cleaning service dirumah sakit segala aspek pekerjaan yang pernah aku jajali itu semua dari kebutuhanku sendiri.
Aku mengambil jurusan S1 karena biaya selanjutnya akan tambah menambah biaya yang luar biasa, uangku akhirnya tercukupi karena bantuan dari tuhan dan juga ibuku yang selalu membantuku. Tak sekiranya impianku menjadi guru sudah dimulai aku tak tau segitu secepatnya aku mendpatakan pekerjaan gru tsb, beberapa tahun kemudian aku sudah mempunyai motor, rumah karena dari kerjaku sendiri. Hidup lamaku akan aku simpan dimemori terpedih yang aku rasakan aku meratapi kebahagiaan tanpa kehadiran seorang ibu , tabah dan sabar itu kunciku. Kebahagiaan itu akan ku rasakan sebagai wujud keberhasilanku saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar